.

Premium Wordpress Themes
Tampilkan postingan dengan label Hakekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakekat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

Hakekat Hidup A-I-U

Dalam kitab suci manapun telah disebutkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Demikian pula dalam kitab suci Al Qur'an. Kematian merupakan suatu hal yang wajib bagi makhluk yang ada di dunia ini. Setiap insan pun akan mengalami kematian. Kematian yang disini adalah kematian jasad (secara raga).

Namun hakekatnya, setiap makhluk hidup tidak akan pernah mengalami kematian. Bahkan Syekh Siti Jenar telah mengajarkan hakekat dari zikir A-I-U. Apa arti dari A-I-U? A-I-U memiliki arti "AKU IKI URIP" (Aku Ini Hidup).

Meskipun hanya tiga huruf A-I-U, namun memiliki arti yang cukup dalam. Pasalnya, pada hakekatnya setiap makhluk yang telah mati, maka hanya kehilangan jasadnya saja. Namun rohnya tetap hidup untuk selamanya. Ia akan mengalami pengembaraan hingga akhirnya menghadap GUSTI ALLAH.

Tetapi proses untuk kembali pada GUSTI ALLAH itu tidak semudah yang dibayangkan. Seseorang yang telah meninggal dunia, maka ia hanya kehilangan raganya. Setelah itu orang tersebut akan melakukan perjalanan untuk menuju ke GUSTI ALLAH. Rintangan dan halangan untuk menghadap GUSTI ALLAH sangatlah banyak sebelum mencapai haribaan GUSTI ALLAH atau yang di dalam Islam disebut 'Inna lillahi Wa Innailaihi

Rojiun' (dari ALLAH kita berasal dan akan kembali ke ALLAH).  Dalam perjalanan tersebut tidak ada lagi materi, jadi tidak mungkin kita mendapatkan kemudahan dengan menyogok seperti yang kita lakukan di
dunia. Semuanya serba murni dari hasil perbuatan kita selama kita di dunia. Nah, A-I-U adalah simbol bahwa manusia meskipun mati karena sakit atau dibunuh, maka hanyalah kehilangan jasad semata.

Orang Jawa pasti sering mendengar kalimat "Urip Iku Ibarat Wong Mampir Ngombe". Nah, dalam kalimat itu kita disuruh untuk memahami dan belajar bahwa sebelumnya kita pernah hidup, dan ketika kita hidup di dunia maka kita hakekatnya adalah beristirahat sebentar.

Oleh karena itu, Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa hakekatnya orang hidup di dunia itu sebenarnya adalah mati. Setelah mati, maka hakekatnya kita melanjutkan perjalanan dan disebut oleh Syekh Siti Jenar bahwa manusia akan mengalami hidup yang sejati setelah proses kematiannya.



sumber : kawruh-kejawen.blogspot.com

Hakekat Ngelmu

Sugih ilmu lan sekti. Ngelmu lan kasekteni iku ora kanggo pribadi, nanging kanggo nulung marang sapada-pada.(Doktrin Abadi Warok Ponorogo)

(Kaya ilmu dan sakti. Mencari ilmu dan kesaktian itu bukan untuk pribadi, tetapi untuk menolong sesama.)

Semua yang ada pada diri manusia itu pada hakekatnya adalah untuk menolong sesama manusia. Bukan malah mencederai, melukai atau bahkan membunuh.

Ngelmu sendiri berasal dari kata angel tinemu (sulit untuk didapatkan). Jadi seorang pelaku spiritual tidak akan semudah itu untuk menemukan ilmu sejati dan ilmu kesaktian. Mereka harus melalui berbagai rintangan dan halangan.

Jika ilmu sejati dan ilmu kesaktian tersebut didapatkan, maka mereka memiliki kewajiban untuk menolong sesama manusia dan makhluk hidup lainnya yang ada di muka bumi. Jika mereka kaya dengan ilmu tersebut, dan tidak mengamalkannya untuk sesama manusia, maka sia-sialah apa yang telah didapatkannya.

Titipan

Biasanya seorang pelaku spiritual akan diuji oleh GUSTI ALLAH setelah mereka mendapatkan ilmu sejati maupun ilmu kesaktian. Umumnya yang tidak kuat menyandang ilmu tersebut akan merasa adigang, adigung, adiguna.

Satu hal yang patut diingat bahwa ilmu yang diperoleh oleh setiap manusia bukanlah atas kehebatan manusia itu sendiri. Tetapi semua itu merupakan 'titipan' GUSTI ALLAH. Dan jika tidak waspada, maka 'titipan' itu akan menjadi belati yang menikam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu, waspadalah.   



sumber : kawruh-kejawen.blogspot.com